KONSEP PENGHIJAUAN BERBASISKAN PANGAN MASYARAKAT

oleh : Rasmi R,S.St.M.Si

 

Anda mungkin masih ingat dengan kegalauan Thomas Maltus yang mengatakan bahwa pertumbuhan manusia mirip dengan deret ukur sedangkan pertumbhan bahan makanan mirip deret hitung. Artinya adalah suatu ketika terjadi kekurangan bahan pangan/kelaparan. Gejala ini memang sudah nampak, apalagi sawah makin lama makin menyusut, pertambahan produktifitas lahan tidak signifikan.

Bagaimana solusinya ?

Altenatif lahan adalah dengan memanfaatkan hutan yang telah mulai gundul dengan kayu yang mengasilkan karbohidrat sehingga masyarakat bersemangat untuk menanam. Kalau dilakukan penghijauan secara konvesional mereka keburu lapar sebelum panen kayu karena mereka bukan butuh uang banyak setelah 15 tahun mendatang melainkan untuk makan hari ini.

Apa komoditi yang harus ditanam ?

Komoditi yang paling tepat adalah pohon sukun ( Arthocarpus altilis)yang buahnya mengandung larbohidrat yang tinggi. Sukun masuk dalam

lampiran International Treaty on Genetic Resource for Food and Agriculture sehingga

penangan jenis ini akan berkontribusi terhadap upaya global dalam menjamin ketahanan

pangan. Dalam bidang kehutanan, sukun merupakan salah satu jenis pohon yang dipilih

dalam kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan.Tanaman ini satu genus dengan Nangka, kluwih, Tarok (Padang) dan Tungka (Padang). Sangat mudah tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, namun permaslahannya adalah pada perbanyakan bibit tanaman. Sebagaimana kita tahu bahwa sukun tidak mempunyai biji, perbanyakan yang lazim dilakukan adalah dengan tunas akar, tapi banyak memngalami kegagalan (mati)

Bagaimana perbanyakan yang paling praktis ?

Perbanyakan yang paling praktis adalah dengan teknik sambung pucuk, dengan batang bawah anakan kluwih.  Dengan teknik ini sukun akan memiliki perakaran yang kuat di banding stek akar karena sambungan memiliki akar tunggang sehingga tidak mudah roboh oleh angin. Teknik sambungan ini juga mudah diterapkan oleh masyarakat awam karena tidak begitu rumit atau bisa juga dengan teknik susuan. Dari hasil uji coba pertama yang dilakukan dengan sambungan tingkat keberhasilannya 80 % dan untuk bibit susuan 100 %

Bagaimana cara menanam dilahan gersang/tandus ?

Sebagaimana kita ketahui bahwa lahan gersang disebabkan  kekurangan air, bisa jadi air jauh dari lahan tersebut.  Secara umum kita sudah tahu pengairan sawah, namun tidak menguasai irigasi di perbukitan, cara yang mudah adalah dengan memanfaatkan plastik atau limbah plastik. Adapun sistem yang dipakai dapat berupa :

  1. Sistem hujan buatan
  2. Sistem tetes
  3. Sistem gondok
  4. Sistem infus
  5. Sistem embun

Pemilihan sistem irigasi ini adalah berdasarkan potensi sumber air dan kemampuan dana yang tersedia, kalau dana cukup kita dapat berbuat banyak. Namun yang paling menguntungkan adalah dengan pemanfaatan limbah plastik, disini kita mendapat banyak keuntungan . Pertama kita mencegah rusaknya lingkungan karena limbah plastik, yang kedua kita bisa mehijaukan lahan dengan bantuan limbah tersebut, yang ketiga mengurangi biaya daur ulang yang cukup tinggi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: